Teori Motivasi Menurut ARCS Keller
A. Definisi Motivasi
Motivasi
berasal dari bahasa latin “Movere” yang berarti “Menggerakkan”. Wlodkowski
(1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau
menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence)
pada tingkah laku tersebut. Sedangkan menurut Winkels (1987) motivasi adalah
adanya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas
tertentu demi mencapai tujuan tertentu.
Motivsi
belajar memiliki peran penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa
senang dalam blajar sehingga yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi
yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar. Siswa yang mempunyai motivasi
tinggi sangat sedikit yang tertinggaal belajarnya dan sangat sedikit pula
kesalahan dalam belajarnya.
Secara garis
besar, motivasi dapai dibedakan menjdi dua, ialah motivasi intrinsik dan
motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik ialah motivasi yang berasal dari dalam
tanpa ada rangsangan dari luar. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi
yang berasal dari luar.
B.
Model
Motivasi ARCS Keller
Keller (1983) menyebutkan seperangkat
prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, yang
disebut sebagai ARCS Model, yakni Attention
(perhatian), Relevance (relevansi), Confidence (kepercayaan diri) dan Satisfaction (kepuasan).
Attention
(perhatian), muncul karena adanya rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu seseornag
dirangsang melalui elemen-elemen yang baru, aneh, lain dengan yang sudah ada,
kontradiktif atau kompleks. Ada beberapa strategi untuk merangsang minat dan
perhatian, yakni: (1) gunakan metode penyampaian yang bervariasi, (2) gunakan
media untuk melengkapi pembelajaran, (3) gunakan humor dalam penyajian
pembelajaran, (4) gunakan peristiwa nyata, anekdot, dan contoh-contoh untuk
memperjelas konsep yang diutarakan, dan (5) gunakan teknik bertanya untuk
melibatkan siswa.
Relevance
(relevansi), menunjukkan adanya hubungan materi pembelajaran dengan kebutuhan
dan kondisi siswa. Ada tiga strategi yang bisa digunakan untuk menunjukkan
relevansi dalam pembelajaran, yakni: (1) sampaikan kepada siswa apa yang akan
mereka lakukan setelah mempelajarai materi pembelajaran, (2) jelaskan manfaat pengetahuan/keterampilan
yang akan dipelajarai, (3) berikan contoh, latihan/test yang langsung
berhubungan dengan kondisi siswa atau profesi tertentu.
Confidence
(kepercayaan diri), merasa diri kompeten atau mampu merupakan potensi untuk
dapat berinteraksi dengan lingkungan. Motivasi akan meningkat sejalan dengan
meningkatnya harapan untuk berhasil. Ada sejumlah strategi untuk meningkatkan
kepercayaan diri, yakni: (1) meningkatkan harapan siswa untuk berhasil dengan
memperbanyak pengalaman, 2) menyusun pembelajaran kedalam bagian-bagian yang
lebih kecil, sehingga siswa tidak dituntut untuk mempelajari banyak konsep
sekaligus, (3) meningkatkan harapan untuk berhasil dengan menggunakan persyaratan
untuk berhasil, 4. mengguanakan strategi yang memungkinkan kontrol keberhasilan
ditangan siswa, (5) tumbuh kembangkan kepercayaan diri siswa dengan
pernyataan-pernyataan yang membangun, (6) berikan umpan balik konstruktif
selama pembelajaran, agar siswa mengetahui sejauh mana pemahaman dan prestasi
belajar mereka.
Satisfaction
(kepuasan), keberhasilan dalam mencapai tujuan akan menghasilkan kepuasan,
siswa akan termotivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan yang serupa. Ada
sejumlah strategi untuk mencapai kepuasan, yakni: (1) gunakan pujian secara verbal,
umpan balik yang informatif, bukan ancaman atau sejenisnya, (2) berikan
kesempatan kepada siswa untuk segera menggunakan/mempraktekkan pengetahuan yang
baru dipelajari, (3) minta kepada siswa yang telah menguasai untuk membantu
teman-temannya yang belum berhasil, (4) bandingkan prestasi siswa dengan
prestasinya sendiri dimasa lalu dengan suatu standar tertentu, bukan dengan
siswa lain.
C. Langkah-langkah Model Pembelajaran ARCS
Adapun langkah-langkah model pembelajaran ARCS adalah sebagai berikut:1) Mengingatkan kembali siswa pada konsep yang telah dipelajari
Pada langkah ini, guru menarik perhatian siswa dengan cara mengulang kembali pelajaran atau materi yang telah dipelajari siswa dan mengaitkan materi tersebut dengan materi pelajaran yang akan disajikan. Dengan cara ini, siswa akan merasa tertarik serta termotivasi untuk memperoleh pengetahuan yang baru yaitu materi pelajaran yang akan disajikan.
2) Menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran (R)
Pada langkah ini, guru mendeskripsikan tujuan dan manfaat pembelajaran yang akan disajikan. Penyampaian tujuan dan manfaat pembelajaran ini dapat dilakukan dengan cara yang bervariasi tapi masih tetap mengacu pada prinsip perbedaan individual siswa sehingga keseluruhan siswa dapat menangkap tujuan dan manfaat pembelajaran yang akan disajikan serta dapat mengetahui hubungan atau keterkaitan antara materi pembelajaran yang disajikan dengan pengalaman belajar siswa tersebut.
3) Menyampaikan materi pelajaran (R)
Pada langkah ini, guru menyampaikan materi pembelajaran secara jelas dan terperinci. Penyampaian materi ini dilakukan dengan cara atau strategi yang dapat memotivasi siswa yaitu dengan cara menyajikan pembelajaran tersebut dengan menarik sehingga dapat menumbuhkan atau menjaga perhatian siswa; memberikan keterkaitan antara materi pembelajaran yang disajikan dengan pengalaman belajar siswa ataupun berhubungan dengan kehidupan sehari-hari siswa; menumbuhkan rasa percaya diri siswa dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, memberikan tanggapan, ataupun mengerjakan soal/latihan; dan menciptakan rasa puas di dalam diri siswa dengan cara memberikan penghargaan atas kinerja atau hasil kerja siswa.
4) Menggunakan contoh-contoh yang konkrit (A dan R)
Pada langkah ini, guru memberikan contoh-contoh yang nyata serta ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari siswa sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti pembelajaran. Adapun manfaat yang didapatkan dari penggunaan contoh yang konkrit ini adalah siswa mudah memahami materi yang disajikan dan mudah mengingat materi tersebut. Tujuan penggunaan contoh yang konkrit ini adalah untuk menumbuhkan atau menjaga perhatian siswa (attention) dan memberikan kesesuaian antara pembelajaran yang disajikan dengan pengalaman belajar siswa ataupun kehidupan sehari-hari siswa (relevance).
5) Memberi bimbingan belajar (R)
Pada langkah ini, guru memotivasi dan mengarahkan siswa agar lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran yang disajikan. Secara langsung, langkah ini dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa sehingga siswa tidak merasa ragu dalam memberikan respon ataupun mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan oleh guru. Pemberian bimbingan belajar ini juga bermanfaat bagi siswa-siswa yang lambat dalam memahami suatu materi pembelajaran sehingga siswa-siswa tersebut merasa termotivasi untuk memahami materi pembelajaran yang disajikan.
6) Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dalam pembelajaran (C dan S)
Pada langkah ini, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, menanggapi, ataupun mengerjakan soal-soal mengenai materi pembelajaran yang disajikan. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi ini, siswa akan berkompetensi secara sehat dan aktif dalam mengikuti pembelajaran. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk berparisipasi dalam pembelajaran ini juga dapat menumbuhkan ataupun meningkatkan rasa percaya diri siswa dan akhirnya juga dapat menimbulkan rasa puas di dalam diri siswa karena merasa ikut terlibat dalam proses pembelajaran tersebut.
7) Memberi umpan balik (S)
Pada langkah ini, guru memberikan suatu umpan balik yang tentunya dapat merangsang pola berfikir siswa. Setelah pemberian umpan balik ini, siswa secara aktif menanggapi feedback dari guru tersebut. Pemberian feedback ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa dan menimbulkan rasa puas dalam diri siswa.
8) Menyimpulkan setiap materi yang telah disampaikan di akhir pembelajaran (S)
Pada langkah ini, guru menyimpulkan materi pembelajaran yang baru saja disajikan dengan jelas dan terperinci. Langkah ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara diantaranya memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk membuat kesimpulan tentang materi yang baru mereka pelajari dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Secara tidak langsung, langkah ini dapat menciptakan rasa puas di dalam diri siswa.
