Kamis, 12 Mei 2016

PSIKOLOGI


Teori Motivasi Menurut ARCS Keller

A. Definisi Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa latin “Movere” yang berarti “Menggerakkan”. Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Sedangkan menurut Winkels (1987) motivasi adalah adanya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai tujuan tertentu.
Dalam kegiatan belajar mengajar, dikenal adanya motivasi belajar, yaitu motivasi yang di terapkan dalam kegiatan belajar. Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar itu demi mencapai suatu tujuan.
Motivsi belajar memiliki peran penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa senang dalam blajar sehingga yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar. Siswa yang mempunyai motivasi tinggi sangat sedikit yang tertinggaal belajarnya dan sangat sedikit pula kesalahan dalam belajarnya.
Secara garis besar, motivasi dapai dibedakan menjdi dua, ialah motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik ialah motivasi yang berasal dari dalam tanpa ada rangsangan dari luar. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar. 
B.     Model Motivasi ARCS Keller  
Keller (1983) menyebutkan seperangkat prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, yang disebut sebagai ARCS Model, yakni Attention (perhatian), Relevance (relevansi), Confidence (kepercayaan diri) dan Satisfaction (kepuasan). 
Attention (perhatian), muncul karena adanya rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu seseornag dirangsang melalui elemen-elemen yang baru, aneh, lain dengan yang sudah ada, kontradiktif atau kompleks. Ada beberapa strategi untuk merangsang minat dan perhatian, yakni: (1) gunakan metode penyampaian yang bervariasi, (2) gunakan media untuk melengkapi pembelajaran, (3) gunakan humor dalam penyajian pembelajaran, (4) gunakan peristiwa nyata, anekdot, dan contoh-contoh untuk memperjelas konsep yang diutarakan, dan (5) gunakan teknik bertanya untuk melibatkan siswa. 
Relevance (relevansi), menunjukkan adanya hubungan materi pembelajaran dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Ada tiga strategi yang bisa digunakan untuk menunjukkan relevansi dalam pembelajaran, yakni: (1) sampaikan kepada siswa apa yang akan mereka lakukan setelah mempelajarai materi pembelajaran, (2) jelaskan manfaat pengetahuan/keterampilan yang akan dipelajarai, (3) berikan contoh, latihan/test yang langsung berhubungan dengan kondisi siswa atau profesi tertentu. 
Confidence (kepercayaan diri), merasa diri kompeten atau mampu merupakan potensi untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan. Motivasi akan meningkat sejalan dengan meningkatnya harapan untuk berhasil. Ada sejumlah strategi untuk meningkatkan kepercayaan diri, yakni: (1) meningkatkan harapan siswa untuk berhasil dengan memperbanyak pengalaman, 2) menyusun pembelajaran kedalam bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga siswa tidak dituntut untuk mempelajari banyak konsep sekaligus, (3) meningkatkan harapan untuk berhasil dengan menggunakan persyaratan untuk berhasil, 4. mengguanakan strategi yang memungkinkan kontrol keberhasilan ditangan siswa, (5) tumbuh kembangkan kepercayaan diri siswa dengan pernyataan-pernyataan yang membangun, (6) berikan umpan balik konstruktif selama pembelajaran, agar siswa mengetahui sejauh mana pemahaman dan prestasi belajar mereka.  
Satisfaction (kepuasan), keberhasilan dalam mencapai tujuan akan menghasilkan kepuasan, siswa akan termotivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan yang serupa. Ada sejumlah strategi untuk mencapai kepuasan, yakni: (1) gunakan pujian secara verbal, umpan balik yang informatif, bukan ancaman atau sejenisnya, (2) berikan kesempatan kepada siswa untuk segera menggunakan/mempraktekkan pengetahuan yang baru dipelajari, (3) minta kepada siswa yang telah menguasai untuk membantu teman-temannya yang belum berhasil, (4) bandingkan prestasi siswa dengan prestasinya sendiri dimasa lalu dengan suatu standar tertentu, bukan dengan siswa lain.
C. Langkah-langkah Model Pembelajaran ARCS
Adapun langkah-langkah model pembelajaran ARCS adalah sebagai berikut:
1) Mengingatkan kembali siswa pada konsep yang telah dipelajari
Pada langkah ini, guru menarik perhatian siswa dengan cara mengulang kembali pelajaran atau materi yang telah dipelajari siswa dan mengaitkan materi tersebut dengan materi pelajaran yang akan disajikan. Dengan cara ini, siswa akan merasa tertarik serta termotivasi untuk memperoleh pengetahuan yang baru yaitu materi pelajaran yang akan disajikan.
2) Menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran (R)
Pada langkah ini, guru mendeskripsikan tujuan dan manfaat pembelajaran yang akan disajikan. Penyampaian tujuan dan manfaat pembelajaran ini dapat dilakukan dengan cara yang bervariasi tapi masih tetap mengacu pada prinsip perbedaan individual siswa sehingga keseluruhan siswa dapat menangkap tujuan dan manfaat pembelajaran yang akan disajikan serta dapat mengetahui hubungan atau keterkaitan antara materi pembelajaran yang disajikan dengan pengalaman belajar siswa tersebut.
3) Menyampaikan materi pelajaran (R)
Pada langkah ini, guru menyampaikan materi pembelajaran secara jelas dan terperinci. Penyampaian materi ini dilakukan dengan cara atau strategi yang dapat memotivasi siswa yaitu dengan cara menyajikan pembelajaran tersebut dengan menarik sehingga dapat menumbuhkan atau menjaga perhatian siswa; memberikan keterkaitan antara materi pembelajaran yang disajikan dengan pengalaman belajar siswa ataupun berhubungan dengan kehidupan sehari-hari siswa; menumbuhkan rasa percaya diri siswa dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, memberikan tanggapan, ataupun mengerjakan soal/latihan; dan menciptakan rasa puas di dalam diri siswa dengan cara memberikan penghargaan atas kinerja atau hasil kerja siswa.
4) Menggunakan contoh-contoh yang konkrit (A dan R)
Pada langkah ini, guru memberikan contoh-contoh yang nyata serta ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari siswa sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti pembelajaran. Adapun manfaat yang didapatkan dari penggunaan contoh yang konkrit ini adalah siswa mudah memahami materi yang disajikan dan mudah mengingat materi tersebut. Tujuan penggunaan contoh yang konkrit ini adalah untuk menumbuhkan atau menjaga perhatian siswa (attention) dan memberikan kesesuaian antara pembelajaran yang disajikan dengan pengalaman belajar siswa ataupun kehidupan sehari-hari siswa (relevance).
5) Memberi bimbingan belajar (R)
Pada langkah ini, guru memotivasi dan mengarahkan siswa agar lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran yang disajikan. Secara langsung, langkah ini dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa sehingga siswa tidak merasa ragu dalam memberikan respon ataupun mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan oleh guru. Pemberian bimbingan belajar ini juga bermanfaat bagi siswa-siswa yang lambat dalam memahami suatu materi pembelajaran sehingga siswa-siswa tersebut merasa termotivasi untuk memahami materi pembelajaran yang disajikan.
6) Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dalam pembelajaran (C dan S)
Pada langkah ini, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, menanggapi, ataupun mengerjakan soal-soal mengenai materi pembelajaran yang disajikan. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi ini, siswa akan berkompetensi secara sehat dan aktif dalam mengikuti pembelajaran. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk berparisipasi dalam pembelajaran ini juga dapat menumbuhkan ataupun meningkatkan rasa percaya diri siswa dan akhirnya juga dapat menimbulkan rasa puas di dalam diri siswa karena merasa ikut terlibat dalam proses pembelajaran tersebut.
7) Memberi umpan balik (S)
Pada langkah ini, guru memberikan suatu umpan balik yang tentunya dapat merangsang pola berfikir siswa. Setelah pemberian umpan balik ini, siswa secara aktif menanggapi feedback dari guru tersebut. Pemberian feedback ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa dan menimbulkan rasa puas dalam diri siswa.
8) Menyimpulkan setiap materi yang telah disampaikan di akhir pembelajaran (S)
Pada langkah ini, guru menyimpulkan materi pembelajaran yang baru saja disajikan dengan jelas dan terperinci. Langkah ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara diantaranya memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk membuat kesimpulan tentang materi yang baru mereka pelajari dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Secara tidak langsung, langkah ini dapat menciptakan rasa puas di dalam diri siswa.